![]() |
| Sungai Jeruk Meluap, Ratusan Hektar Tanaman Padi Terancam Gagal Panen |
surya online, ponorogo - ratusan hektar tanaman padi yang berada di 7 desa yang ada di kecamatan balong, slahung, dan kecamatan jetis, kabupaten ponorogo setiap musim hujan selalu mengalami gagal panen.
ini menyusul, ratusan hektar tanaman padi itu menjadi langganan banjir luapan air sungai jeruk yang semakin sempit dan dangkal.
kendati kasus gagal panen ini sudah terjadi sejak 6 tahun lalu, akan tetapi tak kunjung mendapatkan perhatian dari sejumlah satuan kerja perangkat daerah (skpd) baik dari dinas pekerjaan umum (pu) bina marga dan cipta karya (bmck), dinas kebersihan dan pertamanan (dkp) maupun dinas pertanian pemkab ponorogo yang berhak menormalisasi sungai jeruk itu.
padahal, rendaman air banjir seperti lautan di area persawahan itu, tergenang rata-rata selama 3 sampai 7 hari.
berdasarkan data yang berhasil dihimpun menyebutkan lahan pertanian yang setiap musim hujan mengalami gagal panen itu diantaranya desa mojopitu, kecamatan slahung, disusul desa bajang, desa karangan dan desa ngampel, kecamatan balong serta desa turi, desa josari, dan desa tegalsari, kecamatan jetis, kabupaten ponorogo.
selama ini para petani menjadi korban kasus pendangkalan dan menyempitnya sungai jeruk yang membela dan melintasi sejumlah desa itu.
langganan banjir yang disebabkan sungai jeruk tak mampu menampung air itu meluap menuju persawahan, jalan antar kecamatan hingga masuk ke rumah pemukiman penduduk setempat.
salah seorang petani, suwito (55) warga rt 02, rw 03, desa karangan, kecamatan balong mengatakan lahan sawah miliknya sejak tiga hari ini terendam air banjir luapan sungai jeruk.
hal ini disebabkan sungai jeruk tak mampu menampung debit air dari wilayah gajah, sambit, sambilawang, wringinamom, dan bungkal.
setiap beberapa wilayah itu turun hujan deras, dipastikan bakal terjadi banjir wilayah perbatasan wilayah kecamatan balong, slahung dan kecamatan jetis itu lantaran pendangkalan dan penyempitan sungai.
"sungai jeruk ini sudah waktunya dinormalisasi karena kanan kiri sungai sudah menyempit dan mengalami pendangkalan.
akibatnya sekitar 39 hektar lahan padi di empat desa di sekitar kampung kami terancam gagal panen karena terendam air luapan sungai," terangnya kepada surya, selasa (28/1/2014).
langganan banjir itu, kata suwito bukan hanya terjadi di area persawahan, akan tetapi juga masuk ke pemukiman rumah warga di desa karangan di seputar sma negeri balong.
selain itu, jalan antara kecamatan balong - kecamatan jetis juga menjadi langganan banjir itu.
"sawah menjadi lautan, jalan antar kecamatan dan jalan antar desa juga terendam air setinggi lutut orang dewasa.
ini semua dampak luapan sungai jeruk.
selama ini pemkab ponorogo diam dan tutup mata.
sedangkan anggota dewan dari dapil balong dan jetis cukup banyak akan tetapi mereka juga tutup mata karena tidak memikirkan petani," imbuhnya.
hal senada disampaikan katiman (60), petani lain yang area persawahannya juga terendam banjir.
katiman menyebutkan langganan banjir itu, bukan hanya di area pertanian desa bajang, desa karangan, dan desa ngampel, kecamatan balong, akan tetapi juga terjadi di desa turi, desa josari dan desa tegalsari, kecamatan jetis.
area pertanian di ketiga desa ini, berbatasan langsung dengan desa bajang dan ngampel.
olah kerenannya, jika luasan total lahan pertanian yang menjadi langganan banjir dan terendam sampai tak kelihatan daunnya sekitar 100 hektar lebih.
"kami minta pemkab ponorogo jangan sampai mengolor-olor waktu.
kami minta segera memperdalam dan memperlebar dasar sungai jeruk serta meninggikan tanggul di kanan-kiri sungai.
kami tidak rela banjir langganan yang disebabkan pendangkalan sungai itu memicu kami tidak bisa menanam padi dan membuat pemukiman terkena dampak air banjir," ungkapnya.
kepala desa bajang, ninik setyowati (41) pihaknya berharap pemkab ponorogo segera menindaklanjuti permintaan warga untuk menormalisasi sungai jeruk itu.
alasannya, dampak dari luapan banjir sungai jeruk itu meresahkan dan merugikan ratusan warga dan petani di desanya dan kampung sekitar desanya itu.
"kami minta secepatnya pemerintah menormalisasi sungai mulai sungai genting hingga sungai jeruk.
sekaligus dilakukan pelebaran dan pengerukan karena itu penyebab banjir langganan itu," ucapnya.
sementara kasi pengendali hama, dinas pertanian pemkab ponorogo, muhadi menegaskan tanaman padi yang terendam banjir selama 1 sampai 2 hari dipastikan tanaman padi masih bisa hidup.
akan tetapi, jika sampai tiga hari terandam banjir dipastikan bakal membusuk.
sebaliknya, jika tanaman padi mulai berbuah, jika terendam sehari sudah mengurangi hasil panen sekitar 50 persen.
"jika sampai tiga hari teredam banjir sampai tak kelihatan daunnya, maka kami akan mendata dan melaporkan sebagai kasus gagal panen," pungkasnya.
terkait    #banjir, ponorogo
baca juga
pencairan dana blsm ponorogo terganjal data
usai laporkan bencana banjir, jurnalis ini dipecat
trotoar alun-alun ponorogo dibiarkan hancur
kotak amal pedagang pasar biayai khitan massal di ponorogo
kota malang bangun terowongan banjir
penulis: sudarmawan
editor: heru pramono
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.