Halaman

Rabu, 15 Januari 2014

Banyak Pukat Harimau Saat Musim Udang di Perairan Bangkalan









surya online, bangkalan - musim penghujan membawa berkah bagi para nelayan karena tangkapan berupa udang berlimpah.
namun bagi petugas keamanan laut, musim hujan merupakan momen sibuk lantaran masih banyak nelayan menggunakan jaring mini trawl atau yang dikenal dengan sebutan pukat harimau.
penggunaan pukat harimau untuk menjaring udang bertentangan dengan undang-undang karena mengganggu ekosistem laut.
seperti rusaknya ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan.
langkah tegas diambil petugas keamanan laut yang terdiri dari dinas kelautan dan perikanan, tni al, dan polair polres bangkalan.
kegiatan patroli di perairan bangkalan mulai dari kecamatan tanjung bumi hingga kawasan perairan kecamatan kwanyar ditingkat ketika musim udang seperti sekarang ini.
tak jarang mereka menginap di tengah laut di atas perahu untuk menghalau perahu para nelayan yang dicurigai menggunakan jaring pukat harimau.
"musim udang seperti sekarang, patroli menyisir perairan bangkalan selalu ditingkatkan.
masih banyak perahu dari luar bangkalan yang menggunakan jaring mini trawl," ungkap kepala dinas kelautan dan perikanan nawawi, rabu (15/1/2014)kedatangan para nelayan asal lamongan, gresik, dan pasuruan selalu menjadi masalah bagi para nelayan lokal.
perlengkapan perahu milik mereka lebih lengkap dibanding perahu milik nelayan asal bangkalan.
"perahu lebih besar.
mereka juga sering membawa jaring trawl dan beroperasi sejak desember hingga maret," jelasnya kepada surya online.
keunggulan perlengkapan menangkap udang itulah yang menjadi penyulut kecemburuan warga nelayan di pesisir tanjung bumi, sepulu, arosbaya, kwanyar, dan modung.
"untuk itu kami terus patroli guna menghindari konflik antar nelayan.
bahkan kami memilih menginap di tengah laut" tuturnya.
keputusan menginap di tengah laut sudah dipertimbagkan secara matang.
kebutuhan logistik dan bahan bakar kapal sudah dipersiapkan sebelum menurunkan jangkar di jarak 2 hingga 3 mil dari bibir pantai.
pada situasi seperti itu, jumlah petugas gabungan biasanya berjumlah delapan orang.
"selain makanan, kami siapkan bahan bakar bensin perahu sebanyak 200 liter," katanya.
keberadaan petugas hingga menginap di tengah laut nampaknya tercium oleh para nelayan dari luar bangkalan.
guna mengelabui petugas, mereka memodfikasi jaring mini trawlnya menjadi jaring payang.
"itu merepotkan kami karena jaring payang tidak dilarang di undang-undang.
kamu harus konsultasi ke tenaga ahli dari dinas propinsi terkait jaring payang," pungkas manta camat modung itu.
kasat polair polres bangkalan ipda winardi mengemukakan, para nelayan dari luar daerah terkadang menunggu petugas kembali ke daratan.
"kami terpaksa menginap.
kadang ya kucing-kucingan dengan mereka," ujarnya.
menginap di tengah laut dengan cuaca seperti sekarang, lanjut winardi, memberikan pengalaman menakutkan.
pasalnya, angin dan gelombang besar sering kali terjadi di tengah malam.
"suara angin dan gemuruh ombak berbaur jadi satu menerpa kapal.
saya dan teman yang lain hanya bisa pasrah menjalani tugas," tuturnya.
ia menambahkan, selain menginap di tengah laut, pihak polair juga menugaskan satu anggota stand by di poskamladu arosbaya dan satu anggota di poskamladu kwanyar.
"jika ada nelayan menggunakan jaring trawl, kami tindak tegas sesuai aturan yang berlaku," tandas ipda winardi.




penulis: ahmad faisol

editor: satwika rumeksa






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.