![]() |
| Pilih Menjanda Ketimbang Balik ke Wisma |
surya online, surabaya - saat mulai meninggalkan dunia prostitusi, tak sedikit rekan dan pelanggannya yang menggoda dan mengejek.
ada teman yang menggodanya untuk ‘naik kelas’ menjadi mucikari.
"kepingin mbambung ta (apa kamu ingin menjadi gelandangan? mlarat gak duwe duit saiki kon (sekarang miskin kami kamu, gak punya duit,” ucap parmi menirukan ejekan seorang pelanggan.
tapi, parmi bergeming.
ia tekun menjalani hidup pilihannya.
ketekunan hatinya membuat orang yang awalnya sinis, pelan-pelan berubah simpatik, bahkan akhirnya mendukung.
untuk urusan uang, parmi harus memutar otak untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan.
sehari-hari, dia mencuci pakaian warga sekitar dan juga menerima jahitan.
kadang, dia juga mengkreditkan pakaian.
ia tidak peduli dengan pekerjaan dilakoninya, yang penting berlebel halal.
setiap bulan, ia bisa tiga sampai empat kali mendapatkan pesanan pakaian dari teman-teman di wisma.
tapi, jual beli ini tidak lantas menghasilkan uang.
pelanggan di wisma lebih banyak yang kredit.
sebenarnya anak-anaknya berharap ia pulang kampung ke jepara.
tapi, parmi menolak.
ia pantang menggantungkan hidup pada mereka.
selain itu, ia merasa berat meninggalkan putat jaya.
parmi ingin tempat ia pernah bergelimang dosa, menjadi tempat pengampunan dengan mendarmabaktikan sisa hidupnya.
lagi pula, ia merasa warga putar jaya sudah menjadi keluarga besarnya.
“setelah lebih dari 20 tahun hidup di sini, berat sekali untuk pergi,” ujarnya.
kata-kata parmi berhenti.
bibir tertutup rapat.
bola matanya sedang bergerak.
rupanya, ia berusaha menahan air mata.
tapi, tetap saja ada air mata yang meleleh tipis.
“masa lalu dan hidup saya di sini.
semuanya ada di sini,” imbuhnya.
nasukha, teman pengajian parmi di nurul hidayah menceritakan, tidak sedikit psk yang di masa tuanya memilih naik kelas menjadi mucikari.
menjadi mucikari pun tidak kalah bergelimang harta.
”tapi bu parmi menolak.
di sudah yakin tidak ingin meneruskan kehidupannya sebagai anak-anak (sebutan bagi psk), apalagi menjadi ibu (sebutan untuk mucikari),” ujar perempuan 52 tahun itu.
beberapa tahun lalu, pernah ada seorang laki-laki mau menikahi.
parmi yang sudah lama menjanda, terkejut.
tapi, akhirnya ia tahu laki-laki itu akan mengajaknya kembali ke wisma dengan menjadi mucikari.
parmi menolak keras.
dia memilih menjanda.
kalau saja mau menerima lamaran laki-laki itu, mungkin kehidupan parmi bisa lebih bergelimang uang.
”saya sampai kaget mengetahui bu parmi menolak.
saya terharu karena bu parmi tidak tergoda lagi dengan kehidupan sebelumnya ,” ucap nasukha.
bagi warga putat jaya timur, sosok parmi sudah dianggap sebagai warga asli.
parmi aktif di kegiatan warga.
selain pengajian, juga rutin mengikuti senam lansia.
nasukha juga mengajak parmi pengajian di lembaga lain setiap satu bulan sekali.
parmi sangat antusias.
terkadang nasukha tidak bisa hadir lantaran ada kegiatan di rumah, parmi tetap berangkat sendiri.
(idl/ben)
terkait#kartini
berita terkait: liputan khusus meneladani kartini
menebar cahaya hidayah di lokalisasi
esthi susanti hudiono : energi yang saya miliki untuk masyarakat.
27 tahun setia dampingi odha
wiwik juga buka layanan konseling parenting
tetap aktif mengajar gratis di usia senja
editor: titis jati permata
sumber: surya cetak
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.