Halaman

Senin, 01 Juli 2013

Perempuan Harus Memiliki Bekal Diri




Perempuan Harus Memiliki Bekal Diri
Perempuan Harus Memiliki Bekal Diri





surabaya - beberapa boks plastik ukuran sedang tertumpuk di teras belakang rumah mimik (46) di tirta dahlia, graha tirta.
semua berisi benang.
warna polos merah, putih, oranye, dan hitam menyatu di sana.
satunya lagi berisi benang sembur warna pastel dan seratnya halus.
sedangkan lainnya benang rajut impor.
di sisi lain dalam rumahnya, bertumpuk karya rajutan yang indah dan lucu.
selimut bayi, syal, taplak, tas, topi, boneka, bros, tutup galon, dan sebagainya memenuhi meja dan kursi.
"itu karya teman-teman anggota komunitas perajut surabaya," ujarnya kalem.
seminggu lalu mereka baru saja menggelar pasar rajut suroboyo di gedung merah putih, balai pemuda.
tujuannya selain menjadi wadah pertemuan, acara tersebut untuk memperkenalkan rajutan lebih luas kepada masyarakat dan membuka pasar lebih luas.
perempuan kelahiran lumajang, 13 september 1967 ini sudah merajut sejak sd ketika memperoleh pelajaran keterampilan.
hobi ini kembali ditekuni ketika suaminya, wahyu haryo wicaksono, dirawat di rumah sakit.
"ya, kan menunggui suami sakit itu pikiran nggak keruan.
daripada bengong, maka saya samba dengan merajut," tuturnya.
hingga, suaminya meninggal dunia tiga tahun lalu mimik tetap merajut.
merajut tak pernah jauh dari kehidupan mimik.
di mobilnya selalu ada benang dan jarum.
ketika menunggu orang atau di bank, mimik selalu menyempatkan diri merajut.
pas di ruang tunggu di bank, banyak orang yang menunggu giliran dipanggil petugas customer service, mendekatinya dan bertanya tentang merajut.
"banyak orang suka dengan merajut tetapi mereka kurang akses informasi," ungkapnya.
kini, buku koleksi rajutannya tercatat menghabiskan biaya sampai rp 10 juta.
sebagian besar karyanya berupa cape, syal, baju dewasa, baju bayi, bros, dan bolero dengan merek mile's crochet.
harga jual berkisar rp 12.
500 sampai rp 1,5 juta.
pernah dia kirim pesanan bros ke kendari dengan besar pembelian rp 2 juta.
tetapi karena dia juga membuat kue, cake, dan roti basah ketika lebaran, maka mimik membuat merek produknya di bawah mile's production.
merajut sekarang malah menjadi pekerjaannya.
apalagi ketika bertemu teman sesama perajut seluruh indonesia di page facebook, rajuter.
dari sana, berkenalanlah dia dengan siani tanti pemilik double crochet.
kemudian komunitas itu kopi darat, berjumpa secara langsung, dan terbentuklah fanpage komunitas perajut surabaya di facebook.
jumlah total anggota 139 orang dan sekitar 60 orang yang selalu hadir ketika ada pertemuan rutin sebulan sekali.
biasanya di surabaya (delta) plaza atau dari satu kafe ke kafe lainnya.
tak disangka, ternyata banyak perajin rajut di surabaya yang berorientasi pasar.
selama ini mereka berkembang dengan memanfaatkan jaringan teman.
"perlu ada wadah dan pengarahan yang benar supaya karya mereka dapat terjual di pasar yang lebih varian dan luas," tegasnya.
salah satunya dengan memperbanyak program pameran kreasi rajutan.
bahkan, dia akan memperkenalkan produk rajutan kepada tamu negara swiss pada 13 hingga 14 juni 2013 ini di salah satu hotel berbintang lima.
rajutan dipertimbangkan menjadi komoditas ekspor dari bidang kerajinan.
"beberapa karya rajutan teman sudah pernah dijual ke luar negeri.
buatan saya sendiri pernah sampai ke swiss, sama dengan yunita," ujarnya sembari menunjuk seorang teman yang juga menjadi bendahara komunitas perajut surabaya.
setiap kali pertemuan pasti ada yang dibahas.
misalnya pelajaran knitting dasar.
"knitting itu membuat rajutan dengan dua alat pengait, jadi agak rumit," ujar mimik.
karena dia sebelumnya hanya menguasai crochet, maka kursus knitting sempat dijalaninya.
menurut mimik, perempuan harus memiliki bekal diri.
"keterampilan itu perlu dipunyai.
siapa menyangka kalau suami saya meninggal ketika anak-anak masih perlu bimbingan," ucapnya.
sekarang dengan keterampilan yang dimilikinya, mimik mampu memberi tambahan biaya kuliah anak pertamanya aditya rizki indrawan, mahasiswa semester enam jurusan teknik perkapalan institut teknologi sepuluh nopember.
serta pravianti rizki amalia, mahasiswi institut teknologi telkom di bandung.
perempuan single parent ini mencoba menularkan keterampilan merajutnya ini kepada putrinya.
"harus dibiasakan supaya dia nanti suka merajut.
jadi, kalau ke bandung saya membawakan dia benang dan jarum," kata mimik sambil tertawa.
mimik mengarahkan amalia membuat knitting, bukan crochet.
"tingkat kesulitan tinggi tetapi harga jualnya tinggi juga," ujarnya.
sekarang, amalia tengah suka membuat topi knitting.
di samping itu, dengan menularkan keterampilan kepada anak maka buku merajut koleksi mimik tidak akan sia-sia.
"lha saya kan sudah beli banyak, sebagian besar buku impor.
belum lagi ebook dan kertas fotokopi," selorohnya.
namun, kalaupun nanti si anak juga tidak terlalu tertarik, mimik sudah punya bayangan akan mewariskan buku merajutnya kepada teman sesama perajut.

Source from: surya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.