Halaman

Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

Gugatan Rektor Unair, Hakim Tawarkan Perdamaian




Gugatan Rektor Unair, Hakim Tawarkan Perdamaian
Gugatan Rektor Unair, Hakim Tawarkan Perdamaian






surya online, surabaya - proses gugatan rektor universitas airlangga (unair) surabaya, prof.
dr fasichul lisan, apt yang dilakukan muhamad nafik hadi ryandono dari ketua departemen ekonomi syariah dan ketua program studi ekonomi islam kemungkinan berakhir damai.
ini terlihat ketika majelis hakim menawarkan agar gugatan itu diselesaikan secara internal sembari melanjutkan proses hukum di ptun surabaya.
dalam lanjutan sidang itu, kedua belah pihak hadir disana.
sidang itu mengagendakan replik dari penggugat terhadap tanggapan tergugat atas gugatan.
namun karena berkas replik tak harus dibacakan, maka penggugat hanya menyerahkan berkas saja.
tak lama, majelis hakim yang dipimpin dani elpah menjelaskan bahwa gugatan rektor unair ini sebenarnya terkait sengketa rumah tangga.
maka pihaknya menawarkan agar ini diselesaikan secara internal dulu.
dia juga menambahkan, proses hukum bisa terus berjalan, namun tak menutup adanya perdamaian dari kedua belah pihak.
"apalagi ini mendekati momen idul fitri, sehingga syak wasangka bisa dilepas," paparnya dalam sidang, selasa (30/7/2013).
ini kemudian direspon penggugat yang diwakili kuasa hukumnya, athoillah.
dia mengaku bahwa itu bisa saja dilakukan.
namun untuk saat ini proses hukum tetap berjalan dulu.
sebelumnya, muhamad nafik hadi ryandono menggugat rektor karena memecat dirinya sebagai ketua departemen ekonomi syariah dan ketua program studi ekonomi islam.
pemecatan pada 25 maret 2013 itu dinilai sarat dengan kepentingan-kepentingan tertentu.
adapun alasan pemecatan dari rektor, karena muhammad nafik tak memiliki integritas dan tak cukup syarat sebagai kaprodi.


Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Rabu, 10 April 2013

5 Penjaga Perdamaian PBB Tewas dalam Serangan di Sudan Selatan








juba - lima personel penjaga perdamaian dan tujuh warga sipil yang bekerja untuk misi perserikatan bangsa-bangsa  di sudan selatan tewas dalam satu serangan mendadak oleh orang-orang tak dikenal di jonglei, negara bagian di bagian timur negara itu, kata pbb.
    "sedikitnya sembilan personel penjaga perdamaian dan warga sipil menderita cedera dalam serangan tersebut dan beberapa lainnya belum terhitung," kata misi pbb di sudan selatan (unmiss) dalam satu pernyataan.
    kementerian luar negeri india mengatakan personel penjaga perdamaian itu berasal dari india.
kebangsaan warga sipil yang tewas belum segera diketahui.
    para serdadu itu mengawal satu konvoi pbb dekat kota gumuruk di jonglei, negara bagian terpencil yang dilanda kekerasan antarsuku, perselisihan antarpeternak dan pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak.
    "(para penjaga perdamaian itu) dalam satu kelompok beranggota 32 personel ketika mereka diserang," kata juru bicara kementerian urusan eksternal india, syed akbaruddin, kepada reuters.
"kami dapat kabar lima orang tewas.
"    sejak meraih kemerdekaan dari sudan pada juli 2011, sudan selatan berjuang memberlakukan otoritasnya di kawasan tempat pertikaian bersenjata setelah selama berpuluh-puluh tahun perang saudara dengan khartoum.
    lebih 150 orang terbunuh bulan lalu di jonglei, negara bagian paling besar di sudan selatan, dalam pertempuran antara tentara sudan selatan dan pemberontak david yau yau, seorang pemimpin pemberontak yang bertempur melawan pasukan pemerintah.
    bulan lalu, tentara negara afrika itu melancarkan serangan terhadap yau yau di jonglei, tempat pemerintah akan mencari minyak dengan bantuan perusahaan total dari prancis.
    yau yau melancarkan pemberontakan tahun lalu, dengan dukungan dari kelompok sukunya murle, setelah kalah dalam pemilihan lokal pada 2010.
    satu stasiun radio gelombang pendek yang mempunyai hubungan dengan pemberontakan yau yau mengatakan kelompok itu melawan pemerintah sebagai reaksi terhadap perlakuan selama masa program perlucutan senjata di jonglei.
    kelompok-kelompok hak asasi manusia menuding tentara sudan selatan melanggar ham selama program yang dipaksakan itu untuk mengakhiri bentrokan-bentrokan antara suku murle dan lou nuer.
tentara membantah hal ini.

Source from: surya[dot]tribunews[dot]com