Halaman

Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2013

Pekan Seni Untag, Tampilkan Stand up Comedy Jawa








surabaya - psk tidak selalu bermakna negatif.
psk dari universitas 17 agustus (untag) surabaya ini malah patut ditiru.
psk versi untag adalah pekan seni kusuma 2013.
di ajang ini, ditampilkan sejumlah lomba dan pagelaran seni di antaranya stand up comedy, tari remo, teater, perkusi, band, akustik hingga sinematografi.
stand up comedy menjadi acara yang yang paling banyak ditonton.
stand upcomedy ini lain dari biasanya karena masing-masing comik diharuskan menggunakan bahasa jawa.
temanya harus menyangkut kritik terhadap indonesia.
peserta stand up comedy jawa ini berasal dari beberapa smu dan smk di wilayah surabaya, lamongan dan sidoarjo.
juri kompetisi yang memperebutkan piala gubernur jatim ini tidak asing d kalangan seniman surabaya.
mereka adalah eko, ketut santoso, dan yadek yang sudah memiliki jam terbang di perlawakan tanah air.
penampilan para peserta yang semuanya laki-laki ini cukup membuat juri dan penonton terbahak-bakak dengan joke-joke segar ala stand up comedy.
salah satu penonton nabila hasnah humairah wusthon mengaku senang dengan stand up comedy jawa meski  tidak terlalu faham bahasa jawa.
"saya ikut tertawa, acara cukup menarik.
jarang ada acara seperti ini," papar mahasiswa jurusan psikologi untag ini.
ketua pelaksana psk 2013, sella eka nanda mengatakan acara ini mengakomodir generasi muda agar peduli dan mau mengangkat kesenian/kebudayaan indonesia.
 "kami sengaja memilih warna pink atau merah muda untuk background panggung dimana merah berarti berani dan merah muda berarti berjiwa muda", kata pegiat teater kusuma untag.
selain itu, dia juga ingin mengampanyekan bahwa di dalam seni tidak ada minoritas.
malam ini, akan digelar fashion show batik sidoarjo sebelum acara  pengumuman pemenang lomba.

Source from: surya[dot]tribunews[dot]com

Kamis, 13 Juni 2013

Karya Seni Ramah Lingkungan di Galeri House of Sampoerna




Karya Seni Ramah Lingkungan di Galeri House of Sampoerna
Karya Seni Ramah Lingkungan di Galeri House of Sampoerna





surabaya - berkarya seni dengan kepedulian terhadap lingkungan mampu diwujudkan dalam ragam bentuk.
ketiga seniman dari bandung yang tengah menampilkan karya mereka di galeri house of sampoerna (hos), surabaya, selama 14 juni hingga 21 juli 2013 ini merupakan pelakunya.
mereka mengambil bahan limbah yang didaurulang menjadi suatu karya sekaligus bertanggungjawab menjaga lingkungan itu sendiri.
menoreh tinta dalam berseni rupa tidak terbatas di atas kertas kanvas saja.
daluang atau kertas yang terbuat dari kulit kayu pohon mulberry juga dapat dimanfaatkan seperti yang dilakukan edi dolan dan asep nugraha.
edi memilih kulit pohon mulberry karena sifat teksturnya yang bagus untuk ditoreh tinta atau cat.
selama dua tahunan ini edo berkutat memproses kulit pohon hingga menjadi medium berkarya.
salah satu karyanya berupa lembaran kulit pohon berjudul rajah perdamaian (pancasila dan mo limo) bahkan masuk nominasi jakarta art world 2012.
di atas kertas kulit pohon berukuran 200 x 55 cm itu dia membuat tulisan dengan cat akrilik dalam sembilan bahasa, diantaranya sansekerta, arab, jawa, dan bahasanya sendiri.
"saya membuat bahasa saya sendiri, alcedo," ujar lelaki berambut keriting ini, rabu (12/6/2013).
kepanjangan dari arab, latin, china, dan edo.
hurufnya mirip paduan huruf sansekerta dan jawa.
satu huruf selalu berwujud huruf e, inisial nama panggilannya, tergantung bagaimana tebal tipis huruf dibuat.
"itu saya buat ketika ada tantangan dari seorang seniman bali yang tengah kuliah s2 di institut teknologi bandung," ungkapnya.
percuma hanya menuliskan huruf yang sudah dikenal pada kanvas kulit pohonnya jika belum mampu membuat huruf dalam bahasanya sendiri.
proses pembuatan kanvas kulit pohon mulberry ini membutuhkan beberapa langkah.
kulit luar pohon dibuang, sehingga yang digunakan adalah kulit sisi dalamnya.
kulit tersebut dikelupas lalu direbus dan direndam dalam air selama sehari semalam.
"perlu direbus supaya empuk dan lendir pohonnya hilang," kata edo.
setelah itu, kulit dipukul-pukul agar pipih dan dikeringkan.
setelah kering, kulit baru bisa digunakan.
untuk menyelesaikan satu karya sepanjang dua meter, edo membutuhkan waktu empat hingga lima jam.
asep yang juga memakai daluang lebih mengutarakan anjurannya kepada masyarakat untuk hidup sehat.
itu tampak di setiap bentuk karyanya yang sebagian besar berupa mixed media.
"saya tidak memakai kulit pohon penuh seperti edo," ucapnya.
dia memakai papan kayu bekas yang dijual kiloan.
daluang dan padi menjadi pelengkapnya.
daluang ini ditempelkan di beberapa sisi papan kayu.
kemudian dia membentuk sketsa, apakah itu bentuk wajah manusia atau benda, dengan membakarnya.
"bukan dibakar dengan api besar tetapi memakai alat yang saya buat sendiri," tuturnya sambil menunjukkan alat itu.
sebuah batang logam dengan ujung bercabang dua merupakan katoda aliran listrik ac-dc.
ketika ditancapkan pada aliran listrik, kawat yang menyambungkan dua katoda tadi menyala merah mirip api.
dengan api itu dia menyentuhkannya ke permukaan papan kayu dan daluang hingga membentuk sketsa.
api itu juga bisa dipakai pada medium lain seperti kayu jati, bambu, atau tipleks.
kebetulan, istri asep adalah seorang pelaku akupunktur.
sehingga kesehatan sangat dekat dengan dirinya.
bagaimana orang sebaiknya makan secukupnya, memakai tangan, dan menghindari junk food.
untuk menyediakan bahan kanvas kulit pohon mulberry ini, asep menanam sendiri pohon tersebut di pekarangan rumahnya yang berukuran beberapa ratus meter persegi.
dia menanam ratusan pohon yang ketika sudah waktunya akan ditebang.
namun, tidak berhenti di sana.
asep kembali menanam bibit pohon mulberry baru agar tidak merusak alam.
"daluang ini sebagai identitas kertas nusantara yang telah tergeser oleh kertas hasil olahan pabrikan besar," ungkapnya.
asep bersama edo merupakan anggota komunitas lingkungseni lingkungan di desa cijotang, bandung.
selain mereka, hadir pula haris fadhillah yang memakai cangkang telur mentah sebagai mediumnya.
"ide ini muncul ketika istri saya menjatuhkan telur dan cangkangnya terinjak.
dari sana saya mengeksplornya," kisah haris yang sudah lima tahun menggeluti seni cangkang telur ini.
hasilnya, lukisan wajah-wajah perempuan yang sekilas mirip karya mosaik.
cangkang telur yang berwarna cokelat muda itu dibubuhi warna hitam, merah, atau cokelat gelap sebagai alis mata, bola mata, atau latar belakang lukisan.
"amplas digosokkan jika ingin memberi gradasi warna cokelat," katanya.
warna hitam diperoleh dari jelaga ketel, cokelat dari kemiri yang digongsong, dan merah dari bubuk batu bata.

Source from: surya[dot]tribunews[dot]com

Rabu, 15 Mei 2013

Visualisasi Ludruk dalam Seni Rupa








surya, online, surabaya-kesenian ludruk lahir dari sebuah kesenian teater rakyat yang dipelopori seniman bernama santik dari jombang pada 1907.
dulu tema yang diangkat berupa cerita lucu yang diiringi musik gamelan, dengan tokoh utama seorang pria berpenampilan sebagai perempuan dan memakai rias wajah loreng-loreng.
sehingga kesenian ini dikenal juga dengan sebutan wong lorek.
hingga pada 1960, kesenian ini berkembang menjadi kesenian besut dengan dimasukkannya segmen kidungan di sela adegan humor.
seni pertunjukan ludruk tersebut divisualisasikan dalam bentuk 27 karya seni yang terdiri dari 25 karya 2d meliputi seni lukis, grafis, dan fotografi serta dua karya 3d (instalasi).
seluruh karya tersebut dipamerkann oleh 25 mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa dan desain grafis universitas negeri surabaya (unesa).
pameran yang digelar di galeri seni house of sampoerna ini merupakan bagian dari surabaya fest untuk merayakan hut kota surabaya ke-720.
"surabaya fest selain di galeri seni, konsep program juga digelar di museum, surabaya heritage track, shop, dan a caf?," jelas ina silas, manager house of sampoerna, rabu (15/5/2013).
"keterlibatan kami dalam surabaya fest ini sebagai bentuk tantangan bagi seni rupa untuk merespon sebuah seni pertunjukan," ujar asysam selaku dosen pembimbing mahasiswa.
"pameran ini sendiri bermisi melihat gejala yang sebenarnya tengah terjadi dalam ludruk," imbuh asysam.
serta menawarkan kepada masyarakat untuk refleksi bahwa tengah ada krisis budaya yang serius.
karya-karya mahasiswa yang ditampilkan ini pun mempertimbangkan sejarah estetika sekaligus keberpihakan etikanya.
secara ideologis, para perupa ini berkarya untuk melawan hegemoni budaya mainstream.
"atau tengah bernegosiasi supaya ludruk tetap berjajar dengan budaya massa di tengah hegemoni teknologi media dan cengkeraman kapitalisme mutakhir," papar asysam.
sebab, ini bukan hal mudah bagi para seniman ludruk untuk mampu bertahan di masa kini.
kualitas karya mahasiswa ini juga tidak bisa dikatakan biasa.
seperti karya andri wijaya yang menampilkan lukisan berjudul kartolo fans club (2013) di atas kanvas ukuran 180x130 cm.
torehan cat akrilik tersebut menyerupai iklan salah satu restoran waralaba dari amerika serikat yang ketika disingkat merupakan kependekan dari kartolo fans club.
ini sesuai kenyataan betapa kartolo memang disukai sebagian besar masyarakat surabaya dan jawa timur yang mengikuti zamannya.
yang menarik lagi adalah karya helmy berjudul tawa yang menangis.
sketsa wajah pemain ludruk di atas lembaran kertas seperti kartolo dan kirun dibuat dari huruf-huruf ketik yang dicetak dari mesin cetak.
bentuk mulut mereka tertarik ke atas atau tertawa, tetapi tampak gelinang air mata pula di sana.
sebuah tawa yang mereka tampilkan, terkadang berbuah air mata bagi mereka sendiri.

Source from: surya[dot]tribunews[dot]com