| Usaha Ketan Punel Lahir karena Bawaan Bayi |
surya online, surabaya - usaha ketan punel muncul karena kondisi keluarga.
kala itu wahyu mencari ide agar sang istri, rini kusuma bisa mengisi waktu luangnya saat menjalani masa kehamilan.
“waktu itu saya hamil anak kedua yang kondisinya beda, gak boleh terlalu capek, jadi saya harus meninggalkan pekerjaan.
tapi di sisi lain karena biasa bekerja, gak enak juga hanya diam di rumah saja.
akhirnya ya saya dan suami coba-coba untuk jual ketan itu,” papar rini.
ide menjual ketan itu muncul karena mereka menilai, proses pembuatan makanan ketan tidak terlalu sulit.
ketan yang merupakan salah satu makanan jajanan tradisional di jawa sekarang juga mulai jarang ditemui di kota, hanya tersedia di tempat dan waktu tertentu saja.
“orang jual ketan sekarang, kalau tidak di pagi hari ya hanya ada di malam hari, itupun terbatas.
bagaimana yang ingin makan ketan siang hari? nah peluang itu yang saya manfaatkan, tentunya produk saya harus punya kelebihan lain,” kata wahyu.
sebagai penambah nilai produk, wahyu dan istrinya memilih menjual ketan dengan beberapa varian rasa.
selain itu mereka juga berusaha menjaga kualitas ketan.
“saya gunakan ketan kualitas terbaik, ketan impor.
dalam pengolahannya sama sekali tidak saya beri campuran apa-apa, kan ada yang dicampur dengan beras supaya dapat untung,” jelasnya.
meski bahan baku ketan terbaik terkadang susah didapat, bahan baku ini setidaknya bisa diambil dari pedagang di sekitar rumah mereka di kawasan wage sidoarjo.
sedangkan pemasaran dilakukan bertahap, mulai dari teman-teman hingga relasi yang adademikianlah, wahyu selanjutnya menjalani usaha menjual ketan seiring masa kehamilan istri.
usaha penjualan ketan punel pun terus berlanjut sampai sekarang, di mana anak kedua mereka sudah lahir dan mulai menginjak usia satu.
baca juga
strategi kejar orang terkenal
lbh surabaya dan relawan buruh buka posko pengaduan thr
kpu jatim sidang tanpa berkas tuntutan
ancam demo perusahaan tak bayar thr
wamenhub: kendaraan mudik harus laik jalan
penulis: dyan rekohadi
editor: parmin
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.