surya online, surabaya – pendeta didik trijatmiko yang didapuk menjadi tokoh utama drama musikal d’anggelos: the messenger of christ, di atriun smk petra surabaya, jumat (18/7/2014), mampu menjiwai perannya sebagai rasul paulus.
pada drama ini, sosok pendeta kharismatik dari gereja kristen indonesia (gki) bromo malang ini, harus berganti karakter dari sosok saulus dari tarsus yang keji menjadi sosok rasul paulus yang menyebar kasih.
saulus dan paulus merupakan satu orang yang sama.
saat masih bernama saulus, ia menggebu-gebu membunuh orang-orang yang percaya di jalan tuhan yesus.
bahkan, saulus menyetujui plot pembunuhan santo stefanus (martir pertama) yang tewas dirajam karena dianggap menghina hukum-hukum taurat.
saat menjadi tokoh saulus ini, didik menjadi sosok yang kejam dan keji dengan suara besar dan keras selalu keluar dari dialog-dialognya.
namun penjiwaan didik berubah ketika akhirnya saulus mendapatkan wahyu tuhan allah.
saat pementasan, didik tengkurap karena tersorot cahaya terang saat akan pergi ke damsyik untuk menangkap orang-orang yahudi pengikut yesus.
dalam ketakberdayaan itu, saulus mendengar suara tuhan yesus berkata “saulus, saulus, mengapa engkau menganiaya aku? dengan penjiwaan yang dalam, didik berkata sepatah-sepatah seolah tak berdaya, “siapa engkau, tuhan?”kemudian, backing vokal suara tuhan yesus berseru, “akulah yesus orang nazaret yang kau aniaya itu.
” momen inilah klimaks pergantian karakter didik dari seorang yang keji menjadi seorang yang penuh kasih.
saat ditemui di belakang panggung, justru didik bersikap merendah.
menurutnya, memerankan rasul paulus pada drama musik ini sangat berat.
“saya tidak pernah membunuh orang, tidak tahu bagaimana bersikap kejam.
tapi kalau tampil tadi terlihat kejam, itu karena tuntutan peran saja,” kata didik yang kemudian tersenyum.
didik adalah satu dari 39 pendeta gki sinode wilayah jatim yang bermain pada drama musikal tersebut.
drama ini digelar dalam rangka hari ulang tahun (hut) ke-80 gki.
ketua umum gki sinode wilayah jatim, pdt setyahadi, mengatakan, drama ini merupakan pengingat bagi para pendeta gki di wilayah jatim dan bali untuk terus menguatkan pelayanan umat seperti yang diteladani rasul paulus.
awalnya seorang penentang, rasul paulus kemudian menjadi orang yang membela yesus hingga akhirnya menjadi martir, tewas dipenggal di roma.
“kehadiran kami di dunia harus menjadi perpanjangan tangan tuhan untuk menebar kasih ke sesama.
kami ingatkan dan kuatkan kembali pada drama musikal yang mengisahkan rasul paulus,” imbuh setyahadi.
persiapan drama musikal ini pun terbilang panjang.
enam bulan lebih para pendeta yang berjauhan ini harus latihan bersama-sama.
mengatur waktu bertemu, lanjutnya, adalah kesulitan utama.
“kami punya tanggung jawab melayani umat di wilayah masing-masing tapi tetap bisa disiasati, tetap latihan walau ada yang tidak hadir.
yang tidak hadir, latihan sendiri,” ungkapnya.
dari project drama musikal inipun, bebernya, semakin memperkuat rasa persamaan umat gki di jatim agar bersatu-padu meneladani perjuangan rasul paulus untuk membangun kerajaan allah yang penuh kebaikan.
“kami semakin guyub dan jemaat semakin terlayani.
ini pertama kali kami menggelar acara besar bersama.
kami pikir, akan kami lanjutkan di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
penulis: irwan syairwan
editor: wahjoe harjanto
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.