Halaman

Minggu, 25 Mei 2014

Senyam-senyum Sendiri Nonton Ketoprak Merkuri









surya online, surabaya - abdul wahid (24) senyam-senyum sendiri ketika melihat pagelaran ketoprak panji asmoro bangun di gedung pemuda, sabtu (24/5/2014) malam.
meski tampilan ketoprak dari sanggar merkuri surabaya (sms) menggunakan bahasa krama inggil, karyawan swasta dari pandegiling ini cukup mengerti cerita yang dipertunjukan tersebut.

"sedikit-sedikit mengerti tapi terkadang bingung juga, sebab bahasanya halus banget," kata wahid kepada surya online.
wahid mengakui menonton ketoprak ini karena ketidaksengajaan.
usai meminjam buku di perpustakaan, hujan deras mengguyur pusat surabaya.
"lagi berteduh, kok saya denger bunyi gamelan.
timbangannya basah-basahan, mending nonton saja dulu, mumpung gratis.
tidak membosankan kalau lihat live seperti ini ternyata," sambungnya.
hal senada juga diucapkan rahmi hardianti (39).
perempuan berjilbab asal jakarta yang biasa disapa ami ini menonton dengan antusias di antara 50-an penonton lainnya.
di surabaya, ami sedang liburan bersama keluarganya.
bukannya mengisi liburan ke tempat-tempat ramai, ami malah memilih menonton ketoprak.
"di jakarta saya juga senang menonton wayang bharata di taman ismail marzuki (tim).
memang sejak kecil suka ketoprak, wayang orang, sendratari.
pokoknya pertunjukan kesenian tradisional saya suka," ungkapnya.
meski tidak menonton sampai habis, ami mengaku tahu cerita panji asmoro bangun.
dijelaskannya, cerita ini tentang asmoro bangun yang telah dijodohkan orangtuanya.
namun asmoro bangun tertarik pada ngereni yang lebih cantik dari perempuan yang dijodohkannya, dewi sekartaji.

menyukai pertunjukan kesenian tradisional, ami membeberkan karena ingat pesan almarhum ayahnya.
"ayah bilang saya harus tahu wayang.
ternyata memang wayang itu menarik dan penuh nilai-nilai luhur," ujarnya.
pimpinan sanggar sms, dimas hariyanto (60), mengaku prihatin atas pudarnya rasa cinta warga surabaya terhadap kesenian ketoprak, ludruk, wayang orang.
dimas menceritakan, pada masa jayanya di tahun 80'an, hampir tiap minggu melakukan pertunjukan.
bahkan nama merkuri diambil dari stasiun radio merkuri surabaya karena sanggar ini sering mengisi acara pertunjukan ketoprak live di radio.
"sekarang ini yang menonton malah orang-orang luar surabaya.
kalau seperti ini terus, saya khawatir kesenian ini tidak lagi jadi kesenian surabaya," tandas dimas.
tahun 2013, sanggar ini hanya tampil lima kali dalam setahun.
dimas dan ke-23 anggota sanggarnya hanya bisa mengelus dada karena minimnya orderan.
kendati demikian, dimas mulai merasakan harapan.
kebijakan pemkot surabaya yang menjadikan balai pemuda sebagai tempat pertunjukan kesenian tradisional setiap minggu membuat dimas bisa sedikit lega.
bisa tampil kembali dan menghibur warga menjadi kesenangan batin tersendiri bagi dimas dan kelompoknya.
"bagi seniman ketoprak, bisa tampil dan ditonton walau sedikit tidak masalah.
yang penting rasa kesenian tersalurkan dan ketoprak ini sendiri pun tidak mati.
saya optimistis, kalau program pemkot ini diteruskan, lambat-laun warga surabaya akan kembali menontonnya," pungkasnya.




terkait#senyam-senyum sendiri, nonton, ketoprak merkuri

baca juga



ronaldo dan irina nonton tari kecak


sierra soetedjo pukau ribuan penonton


mabuk, bacok penonton tv


8 bintang obati kangen fans surabaya


hentakan enter sandman buka konser





penulis: irwan syairwan

editor: wahjoe harjanto






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.