Halaman

Jumat, 14 Maret 2014

Nelayan Ini Dikenal Sebagai Pemburu Hiu Handal




Nelayan Ini Dikenal Sebagai Pemburu Hiu Handal
Nelayan Ini Dikenal Sebagai Pemburu Hiu Handal






surya online, banyuwangi - di masa muda, ia dikenal sebagai master pemburu hiu.
hanya dengan kapal kayu kecil, ia berani mengejar hewan laut paling ganas itu hingga perbatasan australia.
tapi, ada satu peristiwa yang membuatnya banting haluan, tak lagi mengejar hiu.
matanya sedikit menyipit.
lalu telapak  tangan diletakkan di atas kelopak mata.
dengan cara itu, erwanto, yang akrab dipanggil pak erna (merujuk nama anak pertama, sesuai tradisi jawa), berharap bisa memandang jauh tanpa silau.
pak erna  terus mengamati beberapa kapal kayu di tengah laut.
dia  gelisah karena adiknya belum juga bersandar di dermaga tpi brak, muncar.
“anak perempuan saya sudah tiba, tapi adik saya kok belum sampai juga.
padahal, sudah pagi,” katanya kepada surya yang menemuinya di pelabuhan tpi muncar, senin (10/3/2014).
sembari menunggu adik tiba di dermaga, dia mengawasi anak lelakinya bongkar muat ikan di bibir dermaga.
pak erna yang usianya sudah kepala lima itu sehari-hari hanya mengawasi anak dan adiknya.
namun, pada 1980-an, pak erna dikenal sebagai pemburu hiu.
kala itu, hanya segelintir nelayan yang berani berburu hiu di laut lepas.
  di masa jaya, ia mengarungi samudera hindia sampai ke perbatasan perairan australia.
“di sana banyak sekali hiu besar, bahkan besar sekali,” kenangnya.
pria kalem ini bercerita, dia sebenarnya bukan nelayan asli muncar.
pada 1982, dia pindah dari situbondo ke muncar.
pak erna muda menghabiskan hari-harinya berburu hiu.
“waktu bujangan saya jarang pulang karena lebih sering hidup di laut,” katanya.
(idl)



terkait    #satwa

berita terkait: liputan khusus perdagangan satwa lindung



berhenti buru hiu, juragan kapal pun beralih tangkap ikan biasa


kepala tpi muncar : jumlah pemburu hiu menurun


nelayan di muncar tangkap semua hiu, kecuali hiu tutul


mei-agustus, masa berburu ikan hiu di banyuwangi


menu sirip hiu dibandrol rp 1,7 juta per porsi






editor: titis jati permata

sumber: surya cetak






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.