surya online, surabaya - sejak disahkan pada 1998 di fakultas kedokteran (fk) universitas airlangga surabaya, departemen bedah plastik hingga kini baru memiliki tiga guru besar di bidang ini.
mereka prof dr dr djohansjah marzoeki sp bp-re (k), prof dr m sjaifuddin noer sp bp-re(k), dan prof dr dr david s perdanakusuma sp bp-re(k).
ketiganya berbagi cerita dalam media briefing tentang institusi pendidikan dokter spesialias bedah plastik fk unair/rsu dr soetomo, jumat (24/1/2014) siang.
prof dr dr djohansjah marzoeki sp bp-re(k), atau yang biasa disapa prof djohan, menjelaskan tentangsejarah bedah plastik di indonesia dan surabaya.
"memang bedah plastik erat kaitannya dengan fungsi estetika untuk memperindah penampilkan dan telah menjadi gaya hidup bagi sebagian kalangan.
tapi selain fungsi estetik, bedah plastik juga punya fungsi rekonstruksi guna mengembalikan bentuk pada bagian tubuh yang rusak atau hilang, sehingga bisa kembali berfungsi," jelas dokter yang dikenal menangani tindakan transgender artis dorce gamalama itu.
dalam bedah plastik mempunyai bidang minat kraniofasial (kelainan pada wajah, baik tulang keras maupun tulang lunak di wajah, yang mengalami trauma maupun non trauma), luka bakar, bedah mikro, dan bedah tangan.
ketika ditanya tentang bedah plastik transeksual, prof djohan mengaku, melakukan pertama kali di tahun 1979.
"dan tindakan transeksual ini harus dilakukan secara tim.
ada tiga pokok dokter spesialis dalam tim ini.
yaitu dokter spesialis jiwa atau psikolog atau psikiatris, kemudian spesialis penyakit dalam dan spesialis penyakit kandungan.
termasuk spesialis bedah plastik tentunya," jelas prof djohansjah.
sepanjang karirnya, prof djohan mengaku sudah menangangi 40-an pasien.
semua itu dalam kondisi khusus.
di mana mereka tidak begitu saja bisa mendapat tindakan transeksual.
ada banyak konsekuensi yang harus dihadapi dan persiapan.
"dan tentunya saya hanya yang menangangi yang sudah benar-benar menderita.
sebagai dokter kan kita harus menolong orang yang menderita dan itu dikuatkan dari tim psikiatris," jelasnya.
soal trend, prof djohan mengaku tidak ada tren.
tiap tahun, dia mengaku hanya segitu saja.
bahkan empat tahun terakhir dia sudah tidak menanganinya.
"saya bisa, tapi saya tidak menyukai.
kecuali ada indikasi, baru kami sebagai dokter memberikan pertolongan," kata alumnus pendidikan bedah plastik di groningen, belanda, sejak tahun 1975 itu.
sementara prof dr m sjaifuddin noer sp bp-re (k) atau akrab disapa prof nding, mengakui bila tugas dokter spesialis bedah plastik tidak hanya berurusan dengan orang yang ingin tampil dari normal menjadi supernormal.
"bila normal menjadi supernormal itu bedah estetik atau kosmetik.
kalau rekonstruksi adalah tindakan bedah yang ditujukan untuk memperbaiki dari suatu keadaan yang tidak normal/cacat diupayakan menjadi normal atau mendekati normal," jelas prof nding.
dalam acara itu sempat juga disinggung kembali tentang penanganan kasus face off pada lisa atau siti nurjazila.
lisa pun dihadirkan, dan menyatakan dirinya telah menjalani dua tugas dari dokter bedah plastik itu.
"saya mendapatkan fungsi rekonstruksi dari wajah saya yang rusak, dan estetika untuk membuat wajah saya yang lebih baik," cerita lisa yang sudah menjalani operasi sebanyak 17 kali itu.
lisa sendiri mengaku, masih merasa ada yang berat di wajahnya.
kondisi itu sudah dikonsultasikan dengan tim dokter.
"dioperasi lagi siap.
kan operasinya demi kebaikan.
bukan untuk menyakiti saya.
kadang ada rasa lelah, tapi saya buat santai dan menikmati saja," kata lisa yang mengaku rasa berat itu ada di bagian bawah matanya.
terkait    #bedah plastik tidak hanya kecantikan, rekonstruks
baca juga
dua rekontruksi dalam sehari
rekonstruksi pembunuhan dipindah
rekonstruksi pembunuhan krisnanda, dijaga 150 polisi
rencana rekonstruksi kasus pembunuhan krisnanda batal
rekonstruksi dua kasus pembunuhan ponorogo lamban
penulis: sri handi lestari
editor: parmin
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.