Halaman

Jumat, 06 Juni 2014

Pengrajin Batik Mulai Enggan Gunakan Pewarna Alam




Pengrajin Batik Mulai Enggan Gunakan Pewarna Alam
Pengrajin Batik Mulai Enggan Gunakan Pewarna Alam






surya online, semarang – tak banyak mendapat untung, sejumlah pengrajin batik asal kabupaten kendal, provinsi jawa tengah, mengaku enggan menggunakan pewarna dari alam.
"kalau dijual lakunya tidak seberapa tapi prosesnya lama sekali dan agak rumit.
jadi saya lebih suka menggunakan pewarna dari sintetis," kata seorang pengrajin batik asal kendal, kirman, di semarang, jumat (6/6/2014).
menurutnya, produksi batik tulis dengan pewarna sintetis dalam satu hari bisa menghasilkan satu potong kain.
berbeda halnya saat memproduksi batik tulis dengan pewarna alam yang prosesnya membutuhkan waktu hingga satu minggu.
     kirman juga mengaku batik dengan pewarna alam kurang digemari karena warnanya yang terlalu lembut sedangkan karakteristik batik pesisir adalah penuh warna cerah.
     "kebanyakan pembeli saya seleranya dominan warna cerah kalau warna alam selain terlalu 'soft' juga gampang pudar," ujarnya kirman sendiri pernah memproduksi batik dengan pewarna alam selama tiga bulan.
untuk harga jual, dirinya tidak berani menjual terlalu mahal karena khawatir tidak laku.
batik sintetis dijual dengan kisaran harga rp 350 ribu untuk pewarna alam juga tidak berbeda jauh yaitu kisaran rp 400 ribu.
     sementara pengrajin batik dengan pewarna alam, sipon sunardi mengaku memproduksi batik jenis tersebut karena saat ini peminatnya sangat banyak.
     "memang prosesnya rumit dan butuh waktu lama, namun penjualannya justru lebih luas.
kalau di semarang dijual sekitar rp 500 ribu, di jakarta bisa mencapai rp700 ribu," jelasnya.
     berbagai bahan baku yang digunakannya di antaranya kayu jambal, teger, mahoni, jati, dan tingi selain itu pengrajin asal bayat klaten ini juga menggunakan pasta daun indigo, tom dan buah jolawe.
     sipon mengatakan bagi penggemar batik dengan pewarna alam harus memperhatikan betul cara penyimpanan dan menjaga batik agar warna tidak mudah pudar.
"untuk penyimpanan seharusnya jangan dilipat karena pada warna bekas lipatan akan cepat memudar selain itu setelah dicuci jangan dijemur langsung kena matahari cukup diangin-anginkan saja," jelasnya.
(ant)



terkait#batik

baca juga



libur waisak, kampung batik ini ramai diserbu pengunjung


peringati hari kartini, ajak siswa jadi entrepreneur


mulai pekan depan, pns pemkab lamongan kenakan batik selama tiga hari


batik gunung welirang






editor: titis jati permata






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.