| Ketua Dewan Pendidikan : Mestinya Dindik Dahulukan Pembinaan |
news analysisisa anshoriketua dewan pendidikan surabayasurya online, surabaya - terus terang saya kecewa dengan kebijakan dinas pendidikan (dindik) kota surabaya yang menutup banyak sekolah.
kebijakan ini memposisikan negara, dalam hal ini dindik bukan sebagai regulator, melainkan eksekutor.
kebijakan melarang menerima siswa baru itu sama halnya menutup pelan-pelan sekolah swasta.
ini bukti pemerintah berubah fungsi sebagai eksekutor.
seharusnya, pemerintah melalui dindik membina demi keberlangsungan sekolah swasta.
dalam uu sisdiknas, keberadaan sekolah swasta dilindungi.
pasalnya, mereka inilah yang membantu pemerintah untuk menjamin kelangsungan wajib belajar 12 tahun.
mereka dijamin karena pemerintah tidak sanggup menyelenggarakan pendidikan formal bagi seluruh rakyat.
penutupan ini menjadi ironi di kota yang diklaim layak anak.
di satu sisi, wali kota tri rismaharini ingin mewujudkan wajib belajar 12 tahun dan membangun kota layak anak.
di sisi lain, ada penutupan sekolah yang tidak mengedepankan kepentingan anak.
kalau dindik membuat kebijakan menutup sekolah lewat merger dan mutasi siswa, itu salah besar.
kebijakan itu malah lebih kental unsur penyederhanaan masalah, ketimbang solusi.
dindik tidak memandang bahwa siswa di setiap sekolah itu tumbuh dengan tradisi berbeda-beda.
setiap sekolah memiliki visi dan misi yang tidak sama.
cara belajar juga tidak sama.
kalau kemudian dimerger dan mutasi massal, apakah dindik tidak memperhitungkan bagaimana kondisi anak-anak di sekolah baru? atau bagaimana anak-anak di sekolah yang mendapatkan gerojokan siswa baru?.
belum lagi tidak semua sekolah mau menerima anak-anak yang bermasalah.
nah, beberapa sekolah yang ditutup ini ternyata mau membina anak-anak yang ’dibuang’ sekolahnya karena merasa tidak sanggup lagi mendidik.
sekolah-sekolah itu selama ini juga tidak merepotkan dindik kok.
mereka hidup dan berkembang sendiri.
bagi saya, pengabdian mereka juga tidak bisa dipadang sebelah mata.
berapa sih bayaran para guru di sekolah swasta itu? mereka hanya dibayar rp 250.
000.
bayaran yang jelas jauh dari kebutuhan hidup.
namun, mereka bergeming.
mereka tetap mengajar.
lalu apa yang membuat mereka tetap mengajar? jawabannya cuma satu, yaitu pengabdian.
sayang, pengabdian dan perjuangan mereka harus terhenti di ujung pena pengambil kebijakan.
kasus ini membuka mata saya, bahwa ternyata dindik gagal memahami perbedaan antara pendidikan dan sekolah.
para guru di sekolah-sekolah itu tulus menyelenggarakan pendidikan.
mereka mendidik anak-anak yang bahkan mungkin dianggap sebelah mata oleh sekolah lain.
dibayar kecil atau hanya mengajar segelintir siswa, mereka tidak pernah mengeluh.
itulah pendidikan.
pendidikan itu mengajarkan anak mana yang baik, mana yang tidak.
dari yang tidak tahu menjadi tahu.
ada visi misi dan ideologi yang dianut setiap sekolah untuk mencapai itu.
kalau sekolah itu kan hanya ruang dan fasilitas.
tidak sepatutnya pendidikan yang sudah berjalan itu dihentikan hanya karena masalah ruangan dan fasilitas.
ini dua hal yang berbeda.
seharusnya dindik bisa memahami esensi dari pendidikan.
saya memang tidak menutup mata banyak sekali kekurangan dari sekolah swasta ini.
namun, mata saya juga terbuka.
ternyata, dindik tidak memberikan pembinaan untuk mengisi kekurangan itu.
sekolah pinggiran ini dibiarkan bersaing dengan sekolah mahal dan terkenal.
akhirnya, siapa yang kuat dia yang bertahan hidup.
(idl)
terkait#sekolah
berita terkait: puluhan sekolah dipaksa tutup
dindik surabaya : beri waktu enam bulan untuk urus izin
seabrek persyaratan harus dipenuhi sekolah yang terancam tutup
izin operasional sekolah tak kunjung dikeluarkan dinas pendidikan
kenapa sekolah kami ditutup
editor: titis jati permata
sumber: surya cetak
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.