Halaman

Kamis, 22 Mei 2014

Yang Berhak Menentukan Kelulusan Guru, Bukan Pemerintah




Yang Berhak Menentukan Kelulusan Guru, Bukan Pemerintah
Yang Berhak Menentukan Kelulusan Guru, Bukan Pemerintah






news analysiszainudin maliki ketua dewan pendidikan jawa timursurya online, surabaya - dari pandangan konstitusional, unas smp dan sma itu inkonstitusional atau menabrak undang-undang.
malah, unas sd jauh lebih manusiawi dan sesuai amanat uu.
dari awal saya tegaskan, yang berhak menentukan kelulusan adalah guru yang mengajar dan mendidik siswa.
bukan pemerintah.
dalam uu sisdiknas, tepatnya pasal 58 jelas disebutkan guru dan sekolah-lah yang berhak melakukan evaluasi belajar terhadap peserta didik.
pemerintah itu fungsinya hanya melakukan evaluasi kualitas pendidikan secara nasional.
kementerian pendidikan bisa melakukan evaluasi itu secara random.
ambil sampel di beberapa daerah.
nah, dengan mudah akan terlihat bagaimana kualitas pendidikan yang diselenggarakan selama ini.
kalau saat ini kan tidak begitu.
pemerintah mengambil alih tugas pendidik dengan menjadi penentu kelulusan peserta didik melalui unas.
sedangkan guru menjadi penonton.
makanya guru dan sekolah berlomba-lomba dengan segala cara agar murid-murid mereka lulus.
para guru, kepala sekolah, kepala dinas sampai bupati dan wali kota tidak mau menanggung malu kalau sampai peserta didiknya tidak lulus.
unas memang bermasalah sejak lahir.
di unas, sama sekali tidak ada unsur character building.
yang dibangun hanya kemampuan murid menjawab soal pilihan ganda.
pendidikan kita saat ini lebih berbasis pada ketidakpercayaan pemerintah.
pemerintah tidak percaya pada penyelenggaraan pendidikan mereka sendiri.
buktinya, setiap tahun sistem pengamanan dan pengawasan unas terus diperketat.
ada polisi yang harus mengawal soal.
paket soal diperbanyak.
dari satu menjadi empat.
dari empat menjadi 20 model.
hebohnya unas di indonesia jelas menyerang psikologis peserta didik.
dari awal mereka sudah diintimidasi dengan banyaknya model soal, pengamanan soal yang ketat, sistem pengawasan berlapis sampai ancaman tidak lulus.
kalau pendidikan kita berhasil, indikatornya mudah.
indikator itu berupa semakin berkurangnya pengawasan dan pengaman.
itu bisa terjadi kalau sistem pendidikan kita mengedepankan kepercayaan, pembangunan karakter, pengembangan diri dan tidak bersifat memaksakan kehendak.
saya pikir, selama sistem tidak dibenahi, kecurangan seperti yang terjadi sekarang selalu berulang.
ini seperti bola salju yang terus membesar.
ironisnya, pemerintah tutup mata dan masih mengamini sistem ini benar.
saya sendiri heran.
(idl)



terkait#ujian nasional

berita terkait: mega skandal pembocor unas



unas, korban sistem kejar gengsi


kepala dinas pendidikan lamongan : tak ada aktor intelektual


bocoran kunci jawaban dilipat agar mudah dicocokkan dengan naskah


operasi fajar muluskan skandal pembocor unas


di setiap ruang ujian, dua siswa bertugas menyebar kunci jawaban






editor: titis jati permata

sumber: surya cetak






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.