| Semangat Mencoba Ragam Usaha Jajanan |
surya online, surabaya - banyak ragam usaha kuliner yang bisa dikembangkan para pengusaha pemula.
seorang dimar retno juliasih bahkan berani mencoba membangun usaha dari beberapa jenis produk jajanan sekaligus, mulai dari makanan dimsum, mi ayam, dan minuman capucino.
pendidikan formal di bidang tata boga unesa turut memberi andil besar bagi perjalanan dimar yang kini melakoni bisnis kuliner dengan beberapa brand miliknya sendiri.
usaha yang dijalaninya sebagai bagian dari proses belajar itu masih terus sama-sama berjalan meski pasang surut kerap terjadi.
dimar pertama kali menceburkan diri dalam usaha kuliner di tahun 2011.
kala itu ia bersama beberapa teman kuliah mereka menjalankan usaha dimsum dengan modal dari dikti melalui program wirausaha mahasiswa.
“waktu itu kami membuat produk dimsum untuk vegetarian, vegan dimsum dengan membuat booth di kampus,” kenang dimar.
tapi usaha kuliner pertamanya ini harus menyesuaikan dengan kondisi pasar.
kesulitan mendapat bahan baku dan masih minimnya minat mahasiswa, membuat produk dimsumnya tak lagi khusus untuk vegetarian.
perjuangan menjalankan usaha kuliner terus berlanjut meski akhirnya dimar harus menjalani sendiri.
teman setimnya mulai ‘protol’ menjalani pekerjaan lain.
perjuangan di usaha kuliner pertamnya itu terus berlanjut ketika pihak kampus unesa melakukan pembenahan tata ruang kampus di ketintang.
lokasi usaha dimsum dimar harus dipindah ke foodcourt kampus.
“di tempat baru saya harus bersaing dengan penjual kantin lain, jadi mau tidak mau kalau ingin bertahan ya harus menyesuaikan lagi,” kata lulusan d3 yang melanjutkan ke s1 tata boga unesa itu.
di lokasi baru, dimar akhirnya memperbanyak produk dengan memberi pilihan menu nasi jamur, dan produk barunya my crezz, yang merupakan piihan produk jajanan kremes, mulai ceker, kentang, jamur, dan tahu.
ia melakukan penyesuaian kali ini karena mayoritas pembeli di foodcourt mencari produk makanan berat.
setelah dimsum dan kemudian lahir brand baru my crezz, dimar tak bisa menahan diri untuk mencoba produk – produk baru.
di tahun ini ia mulai membuat produk kuliner baru berupa mi ayam yang diberi nama mi sarjana.
tidak berhenti sampai di situ, ia juga membuat brand baru lagi, my capucino cincau.
produk yang terakhir ini merupakan hasil uji coba dan olahan dimar berupa minuman kopi capucino yang dipadukan dengan cincao.
“orangtua saya bilang, akan lebih baik kalau kosentrasi pada satu jenis usaha saja, memang ada benarnya sih, tapi selama belum tahu bisnis mana yang paling bagus, tidak ada salahnya kan kita mencoba-coba,” tegas dimar.
dari usaha kuliner yang dijalaninya, dimar kini setidaknya telah mempekerjakan lima orang karyawan.
pedapatan yang didapat dari usaha ini cukup beragam mengingat lokasinya di kampus.
“kalau omzet tidak menentu, biasanya untuk di foodcourt, di semester ganjil sekitar rp 800 ribu, di semester genap paling besar rp 400.
000, bisa-bisa hanya rp 250.
000-an (per hari),” ungkapnya.
berita terkait: dimar retno juliasih
berikutnya cari tantangan pengembangan
penulis: dyan rekohadi
editor: parmin
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.