Halaman

Jumat, 16 Mei 2014

Raihlah Kebahagiaan karena Melepas




Raihlah Kebahagiaan karena Melepas
Raihlah Kebahagiaan karena Melepas






surya online, surabaya – katherin wang (52) langsung membuat sikap penghormatan tepat di depan gerbang ketika akan memasuki klenteng sanggar agung, kenjeran, surabaya, kamis (15/5/2014).
setelah membungkuk badan tiga kali, perempuan asal jombang ini baru memasuki pelataran klenteng.
jauh-jauh dari jombang, katherin ingin ikut merayakan puja waisak di klenteng yang terkenal dengan patung dewi kwan im raksasa ini.
“sekalian berdoa dan memperbanyak dharma,” kata katherin.
kendati demikian, katherin sedikit kecewa karena terlambat mengikuti acara meditasi bersama bhikkhu cira dharma dari vihara pandegiling.
pun begitu, katherin tetap khusyuk menjalankan ibadah serta memberikan sajian buah-buahan kepada para dewa.
“yang penting niatnya ke sini untuk ibadah dan merayakan waisak,” sambungnya.
kira-kira 30 menit sebelum katherin datang, klenteng ini memang menggelar ceramah dharma dan meditasi, yang dipimpin bhikkhu cira dhamma.
bhikkhu cira memberi wejangan kepada para umat untuk meraih kebahagian karena melepas.
dijelaskan bhikkhu cira, kebahagiaan di dunia ada dua jenis, kebahagiaan karena memiliki dan kebahagiaan karena melepas.
namun, kebahagiaan karena memiliki punya konsekuensi dapat menjerumuskan seseorang dalam lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kegelapan pikiran).
“kebahagiaan karena memiliki, seperti harta dan tahta itu semu.
semuanya tidak abadi.
ketika seseorang memiliki kekuatan untuk melepas semua itu, maka orang tersebut sudah memiliki kebahagiaan hakiki, yaitu kebahagiaan untunk melepas,” jelas yudha wibisana kresna wijaya, pengurus klenteng sanggar agung mengartikan makna ceramah.
sejak pukul 11.
00 wib, ratusan jemaat tridharma klenteng ini sudah berdatangan.
mereka datang dari berbagai daerah seperti jombang, tuban, hingga jember.
kegiatan dilakukan di pelataran belakang klenteng.
klenteng ini memang memiliki keunikan tersendiri.
pintu depan klenteng yang dibangun keluarga soetiadjo yudho pada 1999 ini menjorok ke arah lautan.
patung raksasa dewi kwan im yang dipanggul dua naga menghadap ke arah klenteng.
posisi seperti ini seolah menggambarkan kedatangan dewi suci itu ke klenteng tersebut.
sementara pintu yang biasa dilalui para jemaat, sebenarnya merupakan pintu belakang.
yudha menuturkan saat acara ceramah dan meditasi, cuaca yang tadinya panas mendadak dipayungi awan, membuat udara di sekitar klenteng tidak sumuk.
ketika surya online mewawancara yudha sekitar 20 menit selesainya acara, hujan rintik kemudian turun.
yudha mengartikan alam ikut merayakan puja waisak klenteng ini dengan melindungi para jemaat dari panas dan memberikan kesegaran dari hujan rintik yang turun.
“semoga hikmah waisak menyelimuti negara kita,” ujarnya.





penulis: irwan syairwan

editor: parmin






tweet

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.