| Keprihatinan dari Ujung Negeri |
oleh : m zainal abidin spdpeserta program pendidikan profesi guru di universitas negeri malangm.
zainal.
abi@yahoo.
com
tujuh bulan lalu kami mengabdi sebagai pendidik di daerah pedalaman kabupaten nunukan, kalimantan utara.
saat liburan kami berenam melakukan perjalanan ke daerah perbatasan indonesia - malaysia, tepatnya di desa aji kuning, kecamatan sebatik kabupaten nunukan.
tujuan kami ke sana pada mulanya untuk mengunjungi teman sepengabdian yang mendapat tugas di daerah tersebut.
setelah mendengar cerita tapal batas negara akhirnya kami tertarik untuk melihatnya, kebetulan tempatnya tidak jauh dari sekolah teman kami mengajar.
membutuhkan waktu hampir dua jam dari pusat kota nunukan untuk menuju desa aji kuning.
dari pelabuhan sei fatimah pulau nunukan menuju pulau sebatik kami menyeberang dengan menggunakan perahu motor.
kemudian dilanjutkan perjalanan darat, membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai tempat tujuan karena jalan masih dalam masa perbaikan.
selama perjalanan kami disuguhi hamparan kebun kelapa sawit.
sesampai di tapal batas, kami tidak menemukan keistimewaan atau kemegahan apapun seperti gapura perbatasan pada umumnya.
hanya, sebuah tugu kecil yang mirip tiang bendera yang menjadi penanda batas antara indonesia - malaysia.
belum lagi pagar kawat berduri setinggi 1,5 meter yang sudah mulai berkarat.
memang seperti inilah kondisi nyata di perbatasan negeri.
sebuah gambaran sederhana betapa kurangnya perhatian pemerintah terhadap luasnya wilayah indonesia.
ada kejadian unik ketika kami ingin membeli minuman kaleng di warung yang letaknya berada di wilayah malaysia.
saat akan membayar, uang kami ditolak oleh penjualnya karena ia hanya menerima uang ringgit.
berbeda dengan toko yang ada di seberang jalan yang ada di wilayah indonesia, penjualnya masih menerima uang ringgit maupun rupiah.
berlakunya dua mata uang ringgit dan rupiah tidak menjadikan penghalang bagi mereka untuk bertransaksi.
selain itu, barang-barang yang dijual di warung sebagian besar berasal dari malaysia.
seperti inilah salah satu potret kehidupan di perbatasan negeri, tepatnya di desa aji kuning, kabupaten nunukan, provinsi kalimantan utara.
jauh dari perhatian pemerintah pusat, sehingga dapat menjadi celah lunturnya nasionalisme.
penggunaan mata uang ringgit dan banyaknya produk malaysia merupakan contoh nyata betapa rentannya nasionalisme masyarakat warga.
terkait#sebatik, nunukan, kalimantan utara
baca juga
600 tki diungsikan terkait gejolak malaysia-filipina
teroris solo pernah sekolah di pulau sebatik
editor: tri hatma ningsih
sumber: surya cetak
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.