Halaman

Kamis, 06 Maret 2014

Mereka Beri Pendidikan Politik Yang Sesungguhnya




Mereka Beri Pendidikan Politik Yang Sesungguhnya
Mereka Beri Pendidikan Politik Yang Sesungguhnya






news analysism asfardirektur pusat studi demokrasi dan hamsurya online, surabaya - para calon legislatif (caleg) dari kalangan alit ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
di era demokrasi terbuka seperti sekarang ini, siapa saja berpeluang menang pemilu.
tidak terkecuali caleg yang bermodal cekak itu.
pada pileg 2014 ini, sebenarnya partisipasi masyarakat kelas bawah untuk mengambil hak dipilih tidak jauh berbeda dengan 2009.
hanya, memang trennya meningkat.
peluang mereka menang pun terbuka karena sistem pemilihan terbuka.
siapa meraih suara terbanyak, dialah yang menang.
kita tidak boleh memandang sebelah mata pada mereka yang terjun di kancah politik praktis.
demokrasi memberi ruang kepada mereka tanpa harus memandang sara, latar belakang sosial dan status ekonomi.
hak mereka untuk dipilih dilindungi undang-undang.
ketika masuk daftar calon sementara (dcs), secara proses mereka sudah disaring di internal partai.
partailah yang menjadi saluran seleksi calon pemimpin yang akan dipilih dalam pemilu.
karena itu, mesin partai menjadi ujung tombak kualitas para calon pemimpin ini.
demokrasi membuka peluang bagi mereka untuk menang.
masyarakat tentu memiliki penilaian sendiri terhadap caleg dari kalangan masyarakat biasa.
jadi bukan mustahil masyarakat memilih mereka.
kalau kemudian mereka menang, ya kenapa tidak? sah-sah saja.
apalagi, kalau caleg ini disokong partai yang memiliki kekuatan massa besar.
tentu, partai diuntungkan juga oleh figur mereka.
tinggal bagaimana mesin partai juga ikut bergerak mengenalkan mereka ke konstituen.
masyarakat mungkin memiliki pandangan, caleg dan anggota dewan yang pinter dan kaya raya itu tidak amanah.
mengapa tidak memilih dari kalangan mereka sendiri yang diyakini amanah dan tidak akan melupakan janji-janji kampanye.
bagi saya, ini masalah keyakinan masyarakat saja.
namun, secara logika memang sulit menang kalau tidak disokong kekuatan finansial.
pasalnya, selain perlu bergerak di kantong pemilih, dana memang menjadi faktor penentu lainnya.
dana ini kan dipakai untuk membiayai program pemenangan.
setiap program ditujukan untuk calon pemilih yang disasar.
bagi saya, faktor uang saja juga tidak cukup untuk memenangkan caleg.
atau, mengandalkan kerja sosial belaka juga sulit meraih suara maksimal.
yang ideal adalah memadukan kekuatan finansial dan kerja sosial politik di kantong pemilih.
kolaborasi keduanya bisa mengefektifkan target kemenangan.
saya melihat, peluang caleg dari masyarakat bawah di dprd (kabubaten/kota) lebih terbuka lebar.
pasalnya, para celeg ini relatif menguasai medan, seperti komunitas tertentu.
dibandingkan di tingkat dprd provinsi, apalagi pusat, tentu peluang menjadi legislator kota/kabupaten lebih besar.
hanya memang, caleg wong cilik ini harus bekerja ekstra keras, tentu saja bersama partai pengusung untuk mengubah mindset pemilih yang berorientasi uang.
mereka kan tidak menawarkan uang.
jadi persoalannya, di sini, bagaimana pendidikan politik yang sesungguhnya harus dilakukan.
sebenarnya, pemilih sudah menentukan pilihannya, terutama partai.
amat jarang pemilih berpindah partai.
tinggal bagaimana para caleg ini memanfaatkan kesetiaan pemilih kepada partai pengusungnya.
sehingga, ada keuntungan yang didapat partai dan caleg.
catatan saya, dalam kompetisi kali ini, siapa yang paling sering bersentuhan dengan masyarakat, dialah yang bisa meraup banyak suara.
blusukan menjadi strategi jitu untuk menarik suara.
jadi, baik caleg kaya maupun miskin, mestinya blusukan.
(idl)




googletag.
cmd.
push(function() { googletag.
display('div-surya-article-bottom-signature'); });

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.