Halaman

Senin, 10 Maret 2014

Jadi Jujugan Napak Tilas Anggota Baru Marinir




Jadi Jujugan Napak Tilas Anggota Baru Marinir
Jadi Jujugan Napak Tilas Anggota Baru Marinir






surya online, gresik - di balik polemik pemerintah indonesia dan singapura terkait penggunaan nama pahlawan usman dan harun sebagai kapal republik indonesia (kri) tni al, tak berimbas apapun dikampung halaman harun di desa diponggo, kecamatan tambak, pulau bawean, kabupaten gresik.
suasana kampung halaman pahlawan yang mendapat nama kopral anumerta harun said bin muhammad ali itu pun tanpa ada tanda atau sisa sebagai tempat asal sang pahlawan.
kesempatan bagi orang yang datang ke kampung ini, terutama pulau bawean sendiri, bukanlah hal yang mudah.
dari pelabuhan gresik, harus menempuh perjalanan laut sejauh 160 km.
transportasi laut menjadi pilihan satu-satunya.
di musim angin barat, saat ombak tinggi, kapal-kapal umum yang berlayar dari gresik ke bawean, mayoritas tidak beroperasi.
sehingga bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tidak ada kapal umum yang melayani penyeberangan.
tapi ketika seorang warga belanda, anak dari serdadu hindia belanda datang ke pulau ini untuk membangun sebuah monumen bagi korban kapal perang belanda yang tenggelam kalah perang dengan jepang, teringatlah akan kondisi kampung halaman harun bin said alias tohir.
serdadu marinir tni al yang tercatat sebagai pahlawan, setelah dihukum gantung oleh pemerintah singapura, karena tertangkap melakukan pengeboman di sebuah hotel di singapura.
kejadian itu merupakan bagian dari tugas sebagai anggota marinir bersama rekannya usman dan gani.
bersama usman, harun yang kelahiran desa diponggo, 4 april 1947, ini dieksekusi pada 17 oktober 1968.
perjalanan menuju kampung sang pahlawan juga masih memerlukan perjuangan lebih.
dari dermaga pelabuhan bawean  di wilayah kecamatan sangkapura, menyusuri jalanan berpaving dengan lebar sekitar 5 meter itu, masih perlu waktu sekitar 1 jam lebih.
apalagi harus menembus keramaian pasar tambak dan jalan berkelok di antara hutan pegunungan pulau bawean.
sesampainya di kampung desa diponggo 176, terlihatlah sebuah rumah berbentuk joglo, tapi bagian teras sudah ditutup dengan pintu dan teralis kayu.
di depan rumah itu, keluarlah seorang pria yang mengaku bernama muhammad salim (44).
“yah, ini rumah kakek dan nenek saya, sekaligus tempat lahir dan tinggal paman saya, harun said alias tohir,” cerita salim, yang ternyata adalah keponakan harun, dari adik perempuan harun, atas nama asiah (67).
tapi asiah tidak lagi menempati rumah yang tampak kurang terawat itu.
“ibu saya tinggal di kampung lain bersama adik saya.
saya yang paling dekat dengan rumah ini, tapi memang jarang ada yang menempati, sehingga tampak kurang terawat,” jelas salim, yang baru saja melepas jabatannya sebagai kepala desa diponggo pada pertengahan februari lalu.
salim kemudian bercerita, di kampung ini semua orang tahu sebagai tempat tinggal harun alias tohir, yang sekarang namanya tercatat sebagai pahlawan dan jenazahnya dimakamkan di taman makam pahlawan kalibata di jakarta.
tapi itu hanya yang sudah berusia dewasa dan tua.
“yang tahu yang tua-tua sih.
angakatan ibu saya atau saya.
yang anak-anak kurang tahu, bahkan malah tidak tahu mungkin,” ungkap salim.
terkait sebagai kampung dan rumah pahlawan, salim mengaku tidak ada kegiatan khusus atau perhatian khusus dari pemerintah.
hanya di tempat ini, beberapa kali dikunjungi personel marinir yang biasanya baru dilantik.
“biasanya ada beberapa anggota marinir tni al yang baru, datang untuk nampak tilas,” ungkap salim.
tapi secara umum, salim mengaku, ada perhatian dari tni al yang pernah mengundang keluarga mereka untuk hadir dalm acara-acara tertentu baik di surabaya maupun di jakarta.
tapi jarang, bisa dibilang satu atau dua kali.
biasanya tergantung pimpinannya yang menjabat.
soal masa kecil harun, salim bercerita, bila sang paman ( harun) bergabung menjadi prajurit tni al kala itu terbilang aneh dan serba instan pada zaman dulu.
pasalnya, begitu lulus sekolah rakyat, setingkat sma dirinya langsung dijemput oleh beberapa orang berbadan tegap.
kejadian itu membuat keluarga kata salim, menjadi sekeluarga khawatir dengan penjemputan orang yang tidak dikenal.
apalagi harun adalah  pasangan dari mahdar dan aswiyani yang memiliki lima saudara ini merasa aneh jika anaknya menjadi tentara secara mendadak.
“paman langsung dijemput oleh orang berbadan tegap dan langsung dibawa entah kemana kala itu.
kami pun sangat bingung dengan kejadian saat itu.
sementara wajah paman saat dibawa oleh orang itu hanya tersenyum sambil berkata “ ibu saya mau jadi tentara mohon doa restunya” demikian yang dikatakan paman saya kala itu.
dan saya sangat ingat betul dengan kalimat yang diucapkan oleh paman,” paparnya.
kini, ketika ramai nama harun akan menjadi nama kri, salim mengaku sudah dihubungi pihak tni al untuk hadir ketika kapal ini tiba di indonesia.
pihaknya mengaku bangga dengan penggunaan nama sang paman sebagai nama kri.
tak hanya itu, ketika polemik mencuat, salim banyak mendapat telepon untuk diminta wawancara, terutama tv nasional.
tapi karena bawean merupakan daerah yang jauh dan transportasinya yang sulit, maka sampai saat ini, salim belum bisa menerima ajakan itu.
“sampai saat ini hanya satu wartawan yang sudah datang ke tempat saya.
ditambah rombongan kalian, yang lainnya belum, masih janji-janji dan minta waktu, tapi sudah sulit karena laut sedang tidak baik,” lanjut salim.
selain rumah, salim masih menyimpan foto harun berupa hasil lukisan, serta foto-foto upacara pemakaman harun.
juga ada tanda lencana dan piagam untuk harun.
“ini sudah cukuplah.
sudah bagus terpasang di dinding tembok rumah kami.
apalagi anugerah pahlawan juga membuat kami harus bisa menjaga sikap agar menjadi baik seperti paman kami,” tandasnya.





googletag.
cmd.
push(function() { googletag.
display('div-surya-article-bottom-signature'); });

Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.