| Madura (memang) Lain |
oleh : indra kristikapraktisi di smk mahardhika surabayaindrakristika@gmail.
com
ketika kami menjenguk bapak yang sakit di kampung halaman, teman dari belanda, jurjen kingma bersedia menyertai kami.
mahasiswa cios university di frisland, belanda ini terlihat antusias.
pertama, ia belum pernah ke madura.
kedua, perjalanan dua sampai tiga jam akan memberikan petualangan baru baginya.
kami melewati dua kabupaten sekaligus, yaitu bangkalan dan sampang dengan jalan berkelok-kelok naik-turun melintasi bukit dengan pemandangan bukit kapur yang indah.
hijaunya padi menghampar bak permadani diselingi jagung dan tebu.
mungkin ini tak ada di belanda.
selama perjalanan, kami berdiskusi tentang kondisi desa-desa di belanda dan indonesia yang ternyata sebuah kontradiksi yang sangat nyata.
penuturan jurjen, warga belanda terbiasa dengan kehidupan bersih dan sehat.
tak peduli di kota atau desa, semua mengikuti pola hidup seragam tentang kebersihan dan kesehatan.
tak heran jalan dan lingkungan desa di belanda sangat bersih, rapi dan tertata indah.
sampah yang dihasilkan penduduk selalu masuk ke departemen khusus yang menangani 3r (reduce, reuse, recycle).
alangkah indahnya jika hal tersebut juga dilaksanakan di seluruh desa di indonesia.
diskusi selanjutnya tentang pandangan jurjen terhadap madura.
beberapa orang tanpa sengaja melabeli sangar dan cenderung mudah marah bagi orang madura.
tentu ini sangat merugikan teman-teman yang berasal dari tanah trunojoyo ini.
tunggu deh tanggal mainnya, batin saya.
betul juga, kesempatan itu akhirnya datang.
esok harinya, selepas makan pagi teman yang tinggi besar ini saya ajak ke pantai camplong.
sambutannya luar biasa, banyak orang menyapa kami dengan penuh keramahan.
bahkan saat membeli oleh-oleh makanan khas madura, si penjaga toko dan beberapa pengunjung toko mengajak foto bareng.
tentu saja mereka meminta dengan sangat sopan.
sore hari menjelang kembali ke surabaya, saya sempatkan mampir ke rumah adik perempuan saya di dusun sebelah.
sambil makan jagung rebus yang masih panas, kami bercerita banyak hal.
belum sepuluh menit menikmati hangatnya sore, datang tetangga, teman dan keluarga-keluarga di sekitar rumah.
mereka ramai-ramai ikut menemui jurjen sambil bercanda dan bertanya tentang banyak hal di belanda.
betapa ramai dan akrabnya himpunan manusia yang berbeda bangsa dan warna kulit ini hanya oleh perantaraan segelas kopi dan sebakul jagung rebus.
bukan oleh konferensi atau konvensi.
ketika kami pamit undur diri, jurjen berkata, “ternyata pandangan saya tentang madura secara umum tidak benar.
justru keramahan dan rasa kekeluargaan yang saya temui di sini.
apakah mereka muslim?”
saya mengangguk.
“ini sekaligus membuka cakrawala pandang saya tentang islam.
di tempat saya di belanda, kebanyakan muslim dianut orang-orang dari negara lain dan mereka suka bertengkar dan berkelahi.
ternyata islam di indonesia berbeda.
sangat familier dan ramah-ramah,” pujinya.
“nah, itu dia!” dalam hati saya bersorak.
terkait    #madura,belanda
baca juga
yang dipuji yang dicaci
amunisi belanda ditemukan di brantas
persela dukung fandi ke timnas indonesia u-23
aji surabaya desak polisi tangkap pelaku perusakan radar madura
puluhan titik batas wilayah di jatim belum jelas
editor: tri hatma ningsih
sumber: surya cetak
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.