| Turunkan Baliho Setelah Bayar Survei |
surya online, surabaya - caleg incumbent untuk dprd jatim, sahat t simanjuntak tidak ingin kedodoran seperti penggalangan suara pada pemilu 2009 lalu.
politisi muda golkar ini menyebut pen calegan pertamanya itu ibarat masuk rimba tanpa peta.
tahun ini, pengacara ternama tersebut kembali maju, juga dari dapil yang sama.
tapi kali ini, ia membekali diri dengan hasil survei.
“hasil survei ini menjadi peta.
jadi, siapa dan komunitas mana yang digarap jelas, ada skala prioritasnya.
begitu juga bentuk dan pola penggalangan bisa lebih terencana,” katanya.
sahat membayar jasa surveyor akhir 2012 lalu.
awal 2013 survei sudah selesai dan hasilnya langsung diterapkan pada awal triwulan kedua 2013.
dengan hasil survei itu, ia ubah model kampanye konvensional sudah dijalankan.
“begitu hasil survei itu muncul, saya langsung turunkan semua gambar, baliho dan banner saya di jalan-jalan,” katanya kepada surya, selasa (14/1/2014).
kenapa? “karena survei saya menemukan fakta, masyarakat mulai terganggu dengan baliho caleg yang terus bermunculan.
ada persepsi negatif terhadap baliho dan spanduk,” katanya.
persepsi negatif baliho di jalanan makin kuat.
apalagi saat media, utamanya elektronik makin gencar menampilkan kesan spanduk dan baliho-baliho itu sebagai pengganggu keindahan kota dan lain-lain.
padahal semua sahat, menganggap pemasangan baliho di jalan cukup efektif menyapa calon pemilih.
sahat lalu beralih dengan model kampanye blusukan dan ketemu komunitas.
berdasar surveinya, cara ini punya efek atau kesan paling kuat bagi masyarakat (calon pemilih).
ia lalu menggenjot blusukan kampung dan temu warga.
“sehari saya bisa enam sampai tujuh kali,” tuturnya.
tanpa survei sekalipun, efektivitas blusukan sebenarnya sudah bisa diketahui.
dari dulu, caleg- caleg juga melakukannya.
“bedanya kalau pakai survei, petanya kelihatan betul.
daerah dan komunitas mana yang mau digarap jelas terlihat.
lha kalau tidak potensial untuk meraup suara, ya tidak perlu digarap.
saya realistis saja, kan tidak mungkin semua orang atau komunitas se-surabaya mau milih saya,” tutur sahat.
lewat survei, sahat mengetahui adanya kekecewaan warga pada kinerja hampir semua anggota dprd.
ini menjadi tantangan bagi caleg incumbent seperti dirinya.
tapi di survei juga terlihat adanya keraguan masyarakat terhadap caleg pendatang.
lha yang ini menjadi peluang bagi caleg incumbent.
“di sini, survei menuntun bagaimana menentukan bentuk pendekatan dan pola komunikasi untuk meyakinkan pemilih.
ini yang tidak saya miliki di tahun 2009 lalu,” kata sahat.
untuk kepentingan survei ini, sahat tidak tertarik lembaga survei profesional.
tokoh persatuan tinju nasional amatir (pertina) jatim ini lebih sreg menggunakan surveyor dari akademisi program magister fisip unair.
“saya lebih senang yang pakai pendekatan murni ilmiah, mereka kan teman semua,” ujarnya.
berapa ongkosnya? “tidak sampai ratusan (juta).
kebetulan mereka perlu survei politik untuk kepentingan akademisnya, sedang saya perlui survei untuk pemilu.
jadi sama-sama untung,” katanya.
sahat juga mengaku tidak perlu survei tiap bulan.
“saya cukup dua kali saja.
periode 2012-2013.
lalu sedang saya tunggu hasilnya, adalah periode akhir 2013-2014 ini.
setelah itu kan sudah masuk april (pemilu),” katanya.
untuk kedua survei itu masing-masing menggunakan 1.
400 responden di surabaya.
sayang sahat tidak mau membuka, tim surveyor yang dia sebut sebagai teman-temannya itu.
yang pasti, kata sahat, dana yang dikeluarkannya lebih murah dari tarif yang dipatok lembaga-lembaga survei.
(ian/ab)
terkait    #caleg
berita terkait: liputan khusus kampanye caleg
lihat reputasi lembaga survei
caleg ini lebih sreg dengan lembaga survei profesional
mau murah pakai jasa mahasiswa
dulu asal nembak, nggak tahunya dapat kursi
ladang rejeki menjanjikan
editor: titis jati permata
sumber: surya cetak
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.