surya online, surabaya - suasana ruang tunggu pengadilan agamasurabaya, selasa (22/4/2014) siang, cukup riuh.
hampir semuatempat duduk penuh oleh orang-orang.
mereka mendaftarkan perkara cerai, mengambil salinan putusan, mengambil akta cerai, legalisasi akta cerai, dan sejenisnya.
di antara beberapa pengunjung yang duduk sambil kipas-kipas—tandapenyejuk udara dan kipas angin di ruang itu tak cukup menghilangkanhawa pengap, seorang laki-laki, bertubuh tambun, datang dancepat-cepat menuju loket.
kemudian, ia duduk antre di barisan nomortiga dari depan.
“mau legalisir akta cerai.
saya mau nikah lagi,” ceritanya denganwajah sumringah.
johan, nama lelaki itu, sudah tiga tahun lalu bercerai denganistrinya.
ia bercerita, perceraian itu terjadi karena mereka berduakhilaf, saling “main api”, hingga berujung pada runtuhnya rumah tanggamereka.
“kami sama-sama salah.
tapi waktu itu, istri saya yang mengajukangugatan cerai,” tambahnya.
cerai gugat (pihak istri yang mengajukan permohonan cerai) sepertiyang pernah dialami johan, memang lebih mendominasi daripada ceraitalak (pihak suami yang menjatuhkan talak cerai) di surabaya.
data pengadilan agama surabaya, tahun 2013 jumlah cerai gugat mendominasi hingga 58 persen dengan jumlah 2.
542 perkara.
sedangkan sisanya merupakan cerai talak totalnya 1.
912 perkara.
“jumlah cerai gugat dan cerai talak (tahun 2013) itu lebih banyakdaripada tahun sebelumnya.
dan setiap tahun hampir selalu bertambah,”terang sugiarto, panitera muda hukum pengadilan agama surabaya.
menurutnya dari data laporan tahunan itu, faktor krisis ahlakmenjadi penyebab runtuhnya rumah tangga nomor wahid.
kemudian disusuldengan faktor tidak ada tanggung jawab, dan faktor tidak adakeharmonisan.
“kami tidak tahu pasti mengapa bisa begitu.
karena, penyebabperceraian baru didalami di persidangan.
intinya, akar faktor tersebutsering karena masalah ekonomi,” tambahnya.
untuk tahun 2014, sampai bulan maret, pengadilan agama surabayalaporan perceraian 1.
553 perkara.
jumlah tersebut terdiri atas 555 cerai talak dan 998 cerai gugat.
lagi-lagi, tiga bulan awal tahun ini pun cerai gugat lebih mendominasi.
berlian ismail marzuki, pengacara yang sering menangani kasus perceraian mengatakan,jika diranking, surabaya masih menduduki empat besar se-indonesiasebagai kota dengan angka perceraian tertinggi.
“tiap tahun surabaya ‘bersaing’ dengan malang, banyuwagi, dan jemberuntuk tinggi-tinggian angka cerai,” tutur pengacara dengan gaya rambutnyentrik ini saat ditemui, rabu (23/4/2014).
berlian juga membenarkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, jumlahcerai gugat lebih tinggi daripada cerai talak.
“itu sudah mulaisekitar tahun 2007-an” tambahnya.
(aflahul abidin/mg1)
terkait#cerai gugat mendominasi kasus perceraian, surabaya
baca juga
mantan pejabat rutan medaeng dilimpahkan ke kejari surabaya
judi di tps sampah dtc digerebek polisi
jambret apes, terjatuh dari motor dikeroyok warga
mpr minta mahasiswa jaga pancasila
satpol pp siap intensifkan patroli di sekitar kbs
editor: parmin
tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.